Megapolitan

Harta Membuat Manusia Melupakan TUHAN

Renungan hari ini, Senin – 31 Agustus 2026.
Oleh : Pdt. Dr. Philip S. Buulolo

Ulangan 8 : 17 – 18
“Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu, Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.”

Ada sebuah bahaya yang sering tidak kita sadari saat kehidupan sedang berjalan baik.
Ketika pekerjaan berkembang, usaha berhasil, penghasilan bertambah, kesehatan terpelihara, keluarga tercukupi, dan banyak kebutuhan dapat dipenuhi, perlahan-lahan kita dapat merasa bahwa semua itu terjadi semata-mata karena kemampuan kita sendiri. Karena itu Musa mengingatkan bangsa Israel sebelum mereka memasuki Tanah Perjanjian, di mana ia berkata, “Janganlah kaukatakan dalam hatimu, Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini.”

Perhatikan bahwa Tuhan tidak melarang mereka memiliki kekayaan. Persoalannya bukan pada HARTA, tetapi ketika harta membuat manusia melupakan TUHAN sebagai sumbernya.

Kisah anak bungsu yang hilang
dan mempunyai banyak uang.
Untuk sementara ia masih dapat menikmati kehidupan. Untuk sementara ia merasa bebas dan tidak membutuhkan rumah bapanya. Kemudian kisah berlanjut di Lukas 15:13 dikatakan bahwa di negeri yang jauh itu ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.
Di sini kita lihat ada sebuah ironi besar, yaitu ia masih menikmati HARTA dari bapanya sambil memilih hidup jauh dari BAPA.

Hal serupa dapat terjadi dalam kehidupan kita.
Ketika kita masih menikmati kesehatan yang Tuhan berikan, tetapi tidak mempunyai waktu bagi Tuhan.
Kita menggunakan kemampuan yang Tuhan berikan untuk mengejar keberhasilan, tetapi melupakan Dia yang memberikan kemampuan itu. Kita menikmati keluarga, pekerjaan, kesempatan, rumah, kendaraan, dan berbagai berkat lainnya, tetapi hubungan dengan Sang Pemberi Berkat justru semakin jauh.

Jauh dari Tuhan membuat berkat kehilangan sumbernya. Bukan berarti setiap orang yang mengalami kerugian pasti sedang jauh dari Tuhan. Alkitab tidak mengajarkan rumus sesederhana itu. Orang benar pun dapat mengalami kesulitan dan kehilangan. Tetapi perumpamaan Tuhan Yesus Kristus mengingatkan kita bahwa ketika seseorang sengaja meninggalkan Bapa, bahkan berkat yang pernah diterimanya dapat dipakai dengan arah yang salah, dan akhirnya harta itu menjadi hilang.

Harta tanpa Tuhan mudah kehilangan tujuan. Kemampuan tanpa Tuhan mudah menghasilkan kesombongan. Kesuksesan tanpa Tuhan mudah menciptakan kemandirian semu. Kelimpahan tanpa Tuhan akhirnya dapat membuat kita lupa dari mana semuanya berasal. Karena itu, jangan sampai kita lebih mencintai pemberian daripada Sang Pemberi. Jangan sampai kita mencari tangan Tuhan tetapi tidak lagi merindukan wajah-Nya. Jangan sampai kita menginginkan berkat-Nya tetapi merasa tidak membutuhkan kehadiran-Nya.

Ulangan 8:18 berkata, “Ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan.” Bahkan kemampuan kita bekerja, berpikir, berusaha, membangun, dan menghasilkan sesuatu pun merupakan anugerah yang Tuhan izinkan ada dalam kehidupan kita.

Roh kita harus tetap terhubung kepada Tuhan sebagai sumber kehidupan. Jiwa kita harus terus mengingat bahwa identitas dan keamanan kita tidak terletak pada apa yang kita miliki. Tubuh kita harus menggunakan kemampuan, waktu, dan harta yang dipercayakan Tuhan untuk tujuan yang benar. Karena kelimpahan yang sejati bukan sekadar memiliki banyak hal. Kelimpahan adalah ketika segala sesuatu yang kita miliki tetap berada dalam hubungan yang benar dengan Sumbernya.

Hari ini bisa saja kita belum kehilangan apa-apa. Pekerjaan masih ada. Usaha masih berjalan. Keuangan masih baik. Keluarga masih lengkap. Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apakah semua berkat itu membuat kita semakin dekat kepada Tuhan atau justru perlahan-lahan membawa kita semakin jauh dari-Nya?”

Jangan menunggu sampai harta habis seperti anak yang hilang baru menyadari betapa berharganya rumah Bapa. Jangan menunggu sampai kekayaan sirna baru menyadari betapa pentingnya dekat dengan Tuhan. Selagi Tuhan masih memberikan kesempatan, kembalilah mendekat kepada-Nya. Selagi Tuhan masih memberi harta, dekatlah selalu kepada-Nya. Nikmatilah berkat, tetapi jangan meninggalkan Sumber berkat. Milikilah harta, tetapi jangan biarkan harta memiliki hati kita. Sebab jauh dari Tuhan dapat menghilangkan harta, tetapi dekat dengan Tuhan membuat kita memahami bagaimana menggunakan setiap berkat sesuai dengan kehendak-Nya.
Tuhan Memberkati🙏🏻