TO BE ONE TOGETHERNESS IV PGPI DKI Jakarta: 647 Gembala Bersatu, Pdt. Jason Tekankan Persaudaraan dan Kerukunan
BOGOR |wartaindonesiaterkini.com— Semangat persaudaraan lintas sinode terasa kuat dalam perhelatan TO BE ONE TOGETHERNESS IV PGPI DKI Jakarta yang berlangsung di Hotel Seruni, Cisarua, Bogor, Jawa Barat.
Mengusung semangat “Kebersamaan yang Mempersatukan”, kegiatan ini mempertemukan ratusan gembala dari berbagai gereja Pentakosta anggota PGPI DKI Jakarta. Tahun ini, tercatat 647 gembala hadir dalam kegiatan tersebut.
Persekutuan Gereja-gereja Pentekosta Indonesia (PGPI)
Ketua Umum: Pdt. Dr. Jason Balompapueng, M.Th.
Dalam wawancara khusus bersama Pewarna Indonesia, Pdt. Jason Balompapueng mengatakan bahwa To Be One Togetherness bukan sekadar agenda tahunan, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan di antara gereja-gereja Pentakosta.
“To Be One Togetherness berarti kebersamaan yang mempersatukan. Ini sudah menjadi penyelenggaraan yang keempat, dan saya melihat persaudaraan itu semakin nyata di antara gereja-gereja aliran Pentakosta yang tergabung dalam PGPI Jakarta,” ujar Pdt. Jason.

Menurutnya, PGPI DKI Jakarta menaungi sekitar 40 sinode dengan kurang lebih 1.100 gereja. Keberagaman tersebut, katanya, justru menjadi kekuatan untuk membangun pelayanan bersama.
PGPI Ingin Terus Bersinergi dengan Pemerintah
Pdt. Jason berharap PGPI dapat semakin aktif menjadi mitra pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dalam mendukung berbagai program yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Kami berharap PGPI ke depan dapat terus menjadi mitra pemerintah, khususnya di DKI Jakarta, untuk turut mengambil bagian dalam berbagai program pemerintah,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas perhatian dan bantuan yang telah diberikan pemerintah kepada gereja dan para pelayan Tuhan.
“Kami tentu bersyukur dan berterima kasih kepada pemerintah atas berbagai bantuan yang telah diberikan kepada anggota PGPI. Dukungan ini menjadi bagian penting dalam pelayanan kami,” tutur Pdt Jason.

Menurutnya, gereja memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya menjalankan pelayanan internal, tetapi juga mengambil bagian dalam menjaga kerukunan dan kedamaian di tengah masyarakat.
“Kiranya Tuhan terus memakai PGPI sebagai alat-Nya untuk membawa kedamaian dan kerukunan di Jakarta. Kami ingin terus mengambil bagian dalam menjaga Jakarta sebagai kota yang toleran dan harmonis,” tegasnya.
647 Gembala Hadir
Penyelenggaraan tahun ini juga menunjukkan peningkatan partisipasi. Jika tahun sebelumnya peserta berjumlah sekitar 500 orang, kini meningkat menjadi 647 peserta, yang seluruhnya merupakan para gembala.
Pdt. Jason melihat peningkatan tersebut sebagai tanda semakin kuatnya kesadaran anggota untuk membangun kebersamaan.
“Setiap tahun kami melihat kesadaran anggota untuk mengikuti kegiatan seperti ini semakin bertumbuh. Tahun lalu pesertanya sekitar 500 orang, dan tahun ini meningkat menjadi 647 orang. Ini menunjukkan bahwa semangat kebersamaan itu semakin kuat,” jelasnya.
Ia menambahkan, apabila seluruh penerima bantuan atau insentif diundang, jumlah peserta dapat mencapai sekitar 3.000 orang, yang terdiri dari para gembala, guru sekolah minggu, coaster, dan pelayan gereja lainnya.
Pdt. Jason dan Sosok Pemimpin Berhati Bapa
Selain pesan tentang persatuan, sosok Pdt. Dr. Jason Balompapueng juga mendapat perhatian dari para gembala yang hadir.
Dalam interaksi selama kegiatan, Pdt Jason terlihat menempatkan relasi persaudaraan sebagai bagian penting dalam kepemimpinannya. Ia tidak hanya berbicara mengenai organisasi, tetapi juga mengenai kehidupan dan pergumulan para gembala serta jemaat yang dilayani.
Sejumlah gembala yang diwawancarai Pewarna Indonesia memberikan kesan positif terhadap pribadi Pdt. Jason. Mereka menggambarkannya sebagai sosok yang baik, harmonis, dekat dengan para gembala, serta memiliki kasih Kristus dan hati seorang Bapa.
Bagi Pdt Jason, hubungan antara gembala dan jemaat memiliki dimensi yang lebih dalam daripada sekadar hubungan pendeta dan jemaat.
“Hubungan gembala dengan jemaat bukan hanya hubungan antara pendeta dan jemaat. Ada hubungan seperti orang tua dengan anak, yaitu orang tua rohani dan anak rohani. Karena itu, seorang gembala harus hadir untuk memimpin, melayani, menjaga, dan mengayomi,” ungkapnya.
Pandangan tersebut memperlihatkan bagaimana Pdt Jason memaknai kepemimpinan bukan semata-mata sebagai jabatan, melainkan sebagai panggilan untuk melayani dan merawat.
Kebersamaan yang Terus Dirawat
Pada akhirnya, TO BE ONE TOGETHERNESS IV di Puncak Bogor menjadi lebih dari sekadar pertemuan para gembala. Kegiatan ini menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan, membangun sinergi pelayanan, serta mempertegas komitmen gereja dalam menjaga kerukunan dan kedamaian di Jakarta.
“Marilah kita terus melayani Tuhan. Kita memiliki tanggung jawab untuk mengambil bagian dalam kehidupan bangsa. Kiranya PGPI dapat terus dipakai Tuhan untuk membawa damai, menjaga kerukunan, dan menjadi berkat bagi Jakarta dan Indonesia,” pungkas Pdt. Jason.
Berbeda sinode bukan berarti berbeda tujuan. Berbeda pelayanan bukan berarti berjalan sendiri. Dalam Kristus, persaudaraan menjadi kekuatan untuk melayani gereja, masyarakat, dan bangsa. *( Yudistira )*

