Suasana Hati Dipengaruhi Oleh Pengalaman Masa Lalu
Renungan, Senin – 10 Agustus 2026.
Oleh : Pdt. Dr. Philip S. Buulolo
Mazmur 42 : 6
“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!”
Setiap orang memiliki masa lalu. Ada pengalaman yang menyenangkan dan membuat kita tersenyum ketika mengingatnya, tetapi ada pula pengalaman yang menyakitkan dan masih memengaruhi suasana hati sampai hari ini. Kegagalan, penolakan, kehilangan, pengkhianatan, atau perkataan yang menyakitkan dapat terjadi bertahun-tahun lalu, tetapi nadanya masih terdengar di dalam jiwa kita sekarang.
Pemazmur dengan jujur berbicara kepada dirinya sendiri, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku?” Ia tidak menyangkal keadaan jiwanya.
Ia mengakui bahwa ada tekanan dan kegelisahan di dalam dirinya. Ini mengajarkan bahwa iman bukan berarti berpura-pura bahwa kita tidak pernah sedih. Orang beriman pun dapat mengalami tekanan, kekecewaan, dan pergumulan emosi.
Masalahnya muncul ketika pengalaman masa lalu tidak hanya menjadi sebuah kenangan, tetapi mulai menentukan suasana hati kita hari ini. Orang yang pernah dikhianati dapat terus hidup dalam suasana hati yang dipenuhi kecurigaan. Orang yang pernah gagal dapat terus hidup dalam ketakutan untuk mencoba lagi. Orang yang pernah ditolak dapat hidup merasa dirinya tidak berharga. Kejadiannya sudah berlalu, tetapi pengaruhnya masih tinggal.
Masa lalu yang tidak dilepaskan dapat mencuri nada kehidupan kita.
Kita menjadi mudah tersinggung, mudah marah, pesimis, atau kehilangan sukacita. Bahkan ketika Tuhan sedang memberikan berkat yang baru, hati kita sulit menikmatinya karena pikiran masih sibuk mengunjungi luka yang lama. Kita hadir di masa kini dengan tubuh kita, tetapi jiwa kita masih tertahan di masa lalu.
Namun Raja Daud tidak berhenti pada pertanyaan, “Mengapa engkau tertekan?” Ia kemudian berbicara kepada jiwanya sendiri, “Berharaplah kepada Allah!”
Inilah titik baliknya.
Ia tidak membiarkan pengalaman menentukan nada hidupnya. Ia mengarahkan kembali jiwanya kepada Tuhan. Masa lalu boleh menjelaskan mengapa kita terluka, tetapi masa lalu tidak boleh menentukan bagaimana kita menjalani masa depan.
Kita memang tidak dapat mengubah apa yang sudah terjadi, tetapi bersama Tuhan Yesus Kristus kita dapat mengubah cara kita menjalani kehidupan setelah peristiwa itu terjadi. Roh Kudus sanggup memulihkan jiwa yang terluka, memperbarui pikiran yang dipenuhi kenangan buruk, dan memberikan kekuatan kepada tubuh kita untuk kembali melangkah. Masa lalu adalah bagian dari perjalanan kita, tetapi bukan penguasa kehidupan kita.
Karena itu, pada awal minggu yang baru ini, perhatikanlah nada kehidupan kita. Apakah perkataan kita lebih banyak dipenuhi keluhan daripada ucapan syukur? Apakah pikiran kita lebih sering mengingat luka daripada kebaikan Tuhan? Apakah hati kita masih dikendalikan oleh sesuatu yang sebenarnya sudah terjadi bertahun-tahun lalu? Bawalah semuanya kepada Tuhan Yesus Kristus.
Jangan biarkan kemarin mencuri sukacita hari ini. Jangan biarkan pengalaman lama membuyarkan kelimpahan baru yang Tuhan sedang kerjakan. Seperti Pemazmur, katakan kepada jiwa kita sendiri: “Berharaplah kepada Allah!” Sebab bersama Tuhan, selalu tersedia hari yang baru, kekuatan yang baru, dan pengharapan yang baru.
Tuhan Yesus Memberkati🙏🏻

